Oneshot : All Of Us

PicsArt_1420187817558-1

Author: Catur Anggraheni

Length: Oneshot?

Rating: G

Genre: Reality Life

Main Cast: Im Yoon Ah, Lu Han, Emily (As You)

Disclaimer : –

Emily-gadis berusia 15 tahun itu menendang kerikil asal. Ia kesal, marah, kecewa. Sungguh. Perasaan ini bahkan lebih menyakitkan ketika tahu Nancy-sahabatnya, berpacaran dengan David, lelaki yang sudah menjadi incarannya selama 1 tahun.

Rasanya seperti mimpi, pagi ini ia mendengar bahwa Luhan-kekasihnya. Oh tidak! -tapi doakan saja, memutuskan untuk hengkang dari grup yang sudah membesarkan namanya. Benar benar keluar. Bukan hanya sekedar rumor. Sarapan yang dibuatkan mom-nya tak ia makan. Air matanya tak berhenti keluar dari iris mata coklatnya. Sungguh, ia tak rela.

Sampai di sekolah, teman temannya malah membuatnya panas. Mereka mengatakan bahwa Luhan tak loyal, tak bertanggung jawab, meninggalkan SM dan fans seenak jidatnya. Sungguh, ia ingin berteriak bahwa semua ini bukan salah Luhan, bukan salah managementnya juga. Tak ada yang salah. Lagi pula, Emily bingung, mengapa mereka jadi peduli padanya? Maksudnya, ia satu satunya gadis dikelasnya yang tergila gila dengan EXO. Tergila gila dengan sesuatu yang berbau Korea. Maklum saja, ia tinggal di Calamity Falls, kota terpelosok di Texas. Ia bahkan tak yakin apa di kotanya EXO itu cukup terkenal.

Lagi ia menghela nafas, lalu dengan malas ia membuka pagar rumahnya. Pagar yang cukup tua itu terbuka. Sudah karatan. Jika berbunyi, bisa menghasilkan suara yang membuat telingamu ngilu. Anjing nyonya Bliss menggonggong keras. Ia pasti megira aku maling, ucap Emily dalam hati.

“Aku pulang,” ucapnya pelan. Pelajaran di sekolah tak ada yang diserapnya. Sungguh, saat ini hal yang diinginkannya adalah terbang ke Korea dan memohon pada Luhan atau SM agar merundingkan hal ini. Tapi, sampai kiamat terjadi ia rasa keinginannnya tersebut tak akan tercapai. Ia pernah mengutarakan niatnya pada Momnya bahwa ia ingin ke Korea. Tapi, mom nya malah berkata jangan terlalu bermimpi untuk pergi ke kawasan Asia tersebut. Menyebalkan? Memang. Ia sering berandai andai. Andaikan ia ini seorang Putri dari Perusahaan ternama. Pasti, tak begini jadinya. Tapi, For God sake Emily, kau harus berhenti membaca fanfiction sialan itu.

Kitty, kucing Persia hadiah ulang tahunnya tahun lalu itu menyambutnya dengan manja.

“Aku sedang tak ingin bermain, Kit” ucap Emily. Ia lalu naik ke lantai atas menuju kamarnya. Lalu menutup pintunya pelan. Rambut pirangnya ia kuncir asal. Lagi, airmatanya menetes. Oh My God. Mengapa ia cengeng sekali. Hei Emily! Wake up! Kau ini hanya satu diantara beribu fans lain. Mereka yang pernah bertemu dengan Luhan saja, mungkin tak menangis terisak sepertimu. Tapi mau bagaimana lagi, sekuat apapun ia mencoba untuk berhenti. Airmatanya itu semakin deras. Kau bisa kehilangan kantung airmata jika menangis terus, percayalah.

Tapi, hei! Luhan itu bias pertamanya. Ia yang membuat Emily yang dulu sangat membenci Kpop jadi sangat menggilainya . Yup, gara gara lelaki yang sok manly itu. Laki laki yang merayakan ulang tahunnya dengan tisu toilet.Laki laki yang menggilai hello kity. Laki laki yang kekanakkan itu. Laki laki yang bahkan mempunyai wajah yang lebih imut darinya. Laki laki itu. Apa bagusnya sih? Itu yang selalu dikatakan Dennis sahabat sebelah rumahnya.

Awalnya sungguh ia tertawa keras, ketika malam sebelumnya membaca artikel yang menyatakan bahwa Luhan akan segera keluar dari EXO. Maksudnya, siapa orang tolol yang membuat artikel murahan seperti ini? Mentang mentang Kris keluar, lalu Luhan keluar juga? Kenapa tak sekalian Tao, Chen, Lay, dan Xiumin keluar juga? Agar complete.

Namun, keeseokan paginya. Ia benar benar tercengang. Luhan benar benar pergi. Emily panik. Kalau Luhan keluar itu artinya masalah besar bagi Emily. Ia tak bisa melihat laki laki itu lagi di panggung bersama EXO, apakah ia akan tetap melanjutnya karirnya di dunia entertainment? Dan yang paling buruk adalah ia tak bisa melihat HunHan, XiuHan, atau yang paling parah LuYoon moment lagi. Dan ya, ia Fawns. Ia menyukai pasangan rusa itu. Ia tergila gila pada rusa. Ia bahkan pernah berjanji jika LuYoon menikah, ia kan membawakan Rusa sebagai hadiah pernikahannya.

Tapi semua impiannya itu sirna sudah.

Hancur dan berantakan.

“YAK! XI LUHAN, HOW DARE YOU ARE???!!!!!” teriak Emily kencang,ia lalu menutup wajahnya dengan boneka rusa dikasurnya. Masih terisak.

.

.

.

Van yang dinaiki 9 gadis cantik itu berjalan dengan kekuatan maksimal. Melewati jalanan kota Seoul yang sunyi dengan cepat. Pukul 3 pagi waktu Korea. Di dalam van yang terdengar hanyalah isakan kecil dari maknae Girls Generation tersebut. Semua members sibuk menghibur si BabySeo agar tak menangis lagi. Tapi, sang visual yang duduk di bangku belakang dan paling pojok malah melamun.

“Seohyun-ah, sudahlah jangan menangis. ” ucap Yuri yang duduk disebelah Seohyun mencoba menenagkan.

“Aku yakin ia pasti menghubungimu” Sunny, si gadis yang paling pendek ikut menambahkan.

“Kau kan masih bisa saling contact denganya. Sudahlah, simpan airmatamu itu” Taeyeon-sang leader itu akhirnya ikut campur tangan. Tapi isakan gadis itu bukannya berhenti malah tambah besar.

Yoona tak ikut menghibur, ia menatap jalanan Seoul dengan kosong. Mimpi buruknya datang.

“Yak! Im Yoona, kau ini mengapa malah melamun? Seohyun sedang menangis, hiburlah dia.” Ucap Tiffany yang duduk disampingnya setengah berbisik. Yoona yang kaget hanya tersenyum garing. Dipaksakan. Senyum disaat seperti ini juga tak baik. Tak bisa memulihkan rasa kecewanya.

Buat apa aku menghibur orang lain? Hatiku toh, sedang terluka juga. Ucap Yoona dalam hati. Tak seperti Seohyun yang memilih menangis terisak. Ia memilih untuk diam. Mau menangis juga rasanya tak tepat. Ia masih belum percaya laki laki China itu benar benar pergi.

Ya. Xi Luhan. Laki laki china itulah yang menyebabkan si magnae menangis kencang. Semua member Girls Generation juga tahu kalau Seohyun itu menggemari Luhan. Ah, tidak! Ia mencintai laki laki China itu. Laki laki itu yang membuat semua member sibuk menenangkan Seohyun yang tak berhenti menangis. Laki laki itu pula yang membuat hati seorang Im Yoona hancur, karena diam diam si gadis bertubuh kurus itu juga menggemari Luhan. Hanya saja, ia tak mau jujur pada member. Karena, yah tentu saja Seohyun.

Diam diam, ia sering memperhatikan gerak gerik Luhan saat mereka berada di satu panggung yang sama. Diam diam, setiap menjelang tidurnya ia membuka blog yang menggemari mereka berdua. Deer. Yoona menyukai sebutan itu. Sebutan fans untuk mereka. Ia juga menyukai Fawns. Para fans yang mendukung mereka. Ia membaca setiap fanfiction di blog tersebut. Karena hanya dengan cara inilah ia tersenyum geli, tersenyum bahagia, bahkan tersenyum haru.

Hanya dengan cara diam diam ia bisa mengagumi Luhan.

Lalu, kabar laki laki itu keluar dari EXO membuatnya hancur. Hancur secara diam diam juga.

Mungkin, kita memang tak ditakdirkan bersama, Lu. Ucap Yoona dalam hati.

“Yoong, kita sudah sampai” suara Tiffany membangunkannya dari lamunan manisnya. Yoona tersenyum lalu keluar dari Van tersebut.

Lalu, dengan senyum ia menyapa para staff yang ada. Kesedihannya tak boleh sampai terlihat.

.

.

.

Huh, perjalanan yang panjang, batin laki laki itu.

Dan tempat terakhir yang ia ingin datangi setelah ia mengambil keputusan yang mencegangkan semua orang adalah Beijing. Kota kelahirannya.

Ia masih ragu, apa keputusan yang diambilnya telah tepat. Tidak, ia tidak menyesal. Ia punya motto, untuk tidak menyesali apa yang telah ia ambil dalam hidupnya. Seperti masuk dalam agensi besar seperti SM, menjadi idol, mempunyai banyak fans dan haters, dan bertemu wanita itu. Ia tak pernah menyesalinya. Ia tahu banyak orang yang akan kecewa terhadap keputusannya. Hyung dan dongsaengnya, senior maupun juniornya, dan yang paling buruk adalah fansnya. Dan, Luhan harap wanita itu juga ikut kecewa. Karena berarti dengan kecewa, ia peduli sedikit terhadap Luhan.

Ia tahu ia tak bertanggung jawab. Ia tahu banyak yang akan mengkritiknya setelah ini. Tapi, ia sudah terlalu lelah. Padahal ia sudah minta dispensasi beberapa waktu yang lalu. Tapi, tak ada respon. Dan, akibatnya inilah. Ia memutuskan untuk keluar. Pergi meninggalkan grup yang sudah memberikan banyak kenangan tersebut.

Dalam perjalanan menuju rumah ibunya, yang ia pikirkan daritadi hanyalah gadis itu. Ia pasti akan merindukannya. Huh, bisa gila aku kalau memikirkannya terus, lagipula belum tentu Yoona memikirkanku juga, ucap Luhan.

Ya. Wanita yang daritadi dibicarakannya adalah Yoona.

Dari awal mereka bertemu Luhan sudah jatuh cinta padanya. Maksudnya, siapa yang tidak jatuh cinta pada gadis secantik Yoona. Yoona sempurna, setidaknya begitulah menurut Luhan. Tapi, tak pernah ada kemajuan di antara mereka. Luhan cukup tahu diri untuk tidak secara terang-terangan mendekati Yoona. Apalagi semenjak Yoona dikabarkan dating dengan seorang actor. Luhan tak peduli dan tak ingin tahu siapa laki laki beruntung itu. Yang ia tahu, ia hancur.

Mereka memang saling menyapa dan mengobrol sesekali waktu. Tapi, hanya sebatas itu. Tak lebih.

Ia senang ia bisa kembali kesini. Ia tak sabar bertemu ibunya. Mengobrol dan bercengkrama seperti dulu bukan ide yang buruk, pikir Luhan.Ibunya menjadi salah satu pertimbangan Luhan mengambil keputusan berani ini, kemudian para member, para fans, lalu gadis itu.

Berat sekali.

Dan tak terasa ia sudah sampai di depan perkarangan rumahnya. Bukan rumah yang megah dan luas. Hanya rumah sederhana yang tidak terlalu besar. Di depan rumahnya ada ibunya yang sibuk menyapu halaman rumah.

Dan tanpa diduganya airmata itu menetes. Bukan air mata kesedihan, tapi air mata haru. Luhan segera menyeka air mata-nya cepat. Dalam hati ia tertawa, jika ada salah seorang fans atau member yang melihatnya menangis seperti ini, ia pasti tak bisa mendapatkan gelar manly lagi. Haha.

Huft.

Ia sekali lagi mengehela nafas. Semuanya akan berubah mulai sekarang. Luhan harus terbiasa. Ah, ia akan merindukan para member, manager, bahkan CEO galak itu sekalipun, merindukan fansnya, dan tentu saja dia.

“Luhan-ssi, kau tak ingin keluar? Kita sudah sampai.” Ucap ahjussi yang menjadi supir untuk mengantarnya pulang.

“Ah, nde” Luhan segera tersadar. Dengan yakin ia keluar dari mobil berwarna hitam tersebut.

Lalu melanjutkan langkahnya dengar membuka pagar yang dililiti para bunga. Eomma-nya tak berubah. Pecinta bunga sejati.

“Eomma?” Luhan menegur sosok itu pelan.

Sosok itu berbalik. Lalu tersenyum.

“Kau pulang Luhan-ah”

.

.

.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s